Infeksi Streptococcus pada Anak: Waspada 4 Gejala Exclusive Komplikasi Jantung yang Bisa Mengintai

Infeksi Streptococcus pada Anak: Waspada 4 Gejala Exclusive Komplikasi Jantung yang Bisa Mengintai

Infeksi Streptococcus pada anak kembali menjadi sorotan setelah unggahan seorang pegiat media sosial, yang membagikan pengalaman putranya (K) dirawat di rumah sakit akibat infeksi bakteri ini. Kisah tersebut mengingatkan kita betapa pentingnya penanganan cepat — karena jika terlambat, infeksi ini bisa memicu komplikasi serius, termasuk kerusakan jantung.

Dari Tenggorokan Sakit Hingga Kaki Membengkak

Infeksi Streptococcus
Foto: Instagram @hiu_theresa dengan izin yang bersangkutan

Awalnya, K hanya mengalami sakit tenggorokan tanpa demam — kesulitan menelan dan rasa tak nyaman di tenggorokan. Sesuai cerita sang ibu, kondisi sempat membaik setelah pengobatan herbal dan penggunaan essential oil. Namun beberapa hari kemudian, K kembali menunjukkan gejala berbeda.

Pada sekitar dua minggu setelah munculnya keluhan tenggorokan, K mengalami pembengkakan pada tangan dan kaki — tanpa rasa sakit. Saat berada di sekolah, ia tiba-tiba merasa lemas dan harus beristirahat di klinik sekolah. Malam harinya, K mengeluh sulit duduk lama karena kaki terasa sakit ketika bangun. Ibu K melihat telapak kaki membengkak dan kemerahan; area tangan juga menunjukkan tanda iritasi. Awalnya, sang ibu menduga itu hanya alergi. Namun gejala berkembang, dan akhirnya orangtua memutuskan membawa K ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah berbagai tes — termasuk alergi, virus, bakteri, rontgen toraks — hasil menunjukkan positif untuk infeksi Group A Streptococcus (GAS) melalui pemeriksaan ASTO. Artinya, tubuh K pernah atau sedang melawan infeksi streptokokus. Hasil itu membuat khawatir — karena GAS bisa menyerang sendi, ginjal, bahkan jantung.

Beruntung, hasil pemeriksaan USG jantung menunjukkan bahwa jantung K masih “bersih”. Dokter menyatakan bahwa infeksi berhasil dideteksi sebelum menyebabkan komplikasi serius seperti kerusakan katup jantung. Kondisi ini dianggap positif karena seringkali gejala komplikasi baru muncul setelah infeksi awal dianggap sembuh.

Mengapa Infeksi Streptococcus Bisa Picu Komplikasi Jantung?

Infeksi tenggorokan atau kulit akibat streptokokus — bila tidak diobati dengan benar — bisa berujung pada Demam Rematik (dan kemudian Penyakit Jantung Rematik / PJR).

Menurut penjelasan para ahli, dalam beberapa kasus, antibodi tubuh yang seharusnya menyerang bakteri justru “salah serang” jaringan tubuh sendiri — terutama jaringan jantung dan sendi. Struktur molekul pada katup jantung mirip dengan struktur bakteri, sehingga sistem imun bisa keliru menyerang katup jantung.

Gejala Demam Rematik biasanya muncul 1 sampai 5 — bahkan 2–4 minggu setelah infeksi tenggorokan awal.

Beberapa gejalanya meliputi:

  • Bengkak dan kemerahan pada sendi atau pergelangan tangan/kaki, plus nyeri sendi berpindah-pindah.
  • Ruam kulit; kadang disertai demam.
  • Lemas, mudah lelah, atau sesak napas.
  • Bila jantung terlibat: bunyi jantung abnormal, gangguan aliran darah, dan pada kasus berat bisa gagal jantung.

Dengan demikian, infeksi Streptococcus bukan hal sederhana — jika dibiarkan, bisa merusak jantung secara permanen.

Pentingnya Diagnosa Dini dan Penanganan Tepat

Para dokter menekankan bahwa infeksi tenggorokan harus ditangani segera dan melewati proses diagnosis yang tepat — tidak cukup hanya berdasarkan dugaan. Untuk mendeteksi infeksi Streptococcus, bisa dilakukan tes cepat antigen (RADT) atau kultur tenggorokan, lalu dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium bila perlu.

Pengobatan antibiotik — terutama dengan penisilin atau amoksisilin — disarankan bila hasil tes menunjukkan infeksi GAS. Terapi ini bertujuan mencegah komplikasi seperti demam rematik dan penyakit jantung rematik.

Selain itu, bila anak sudah pernah terinfeksi GAS, dokter kadang merekomendasikan profilaksis jangka panjang — terutama jika ada riwayat demam rematik sebelumnya — untuk mencegah kambuh.

Lingkungan hidup dan kebersihan juga memainkan peran penting: ventilasi baik, sanitasi, kebersihan peralatan makan, serta tidak berbagi alat makan atau minum sangat penting.

Kasus Anak-anak — Siapa yang Rentan?

Infeksi Streptococcus dan komplikasinya, seperti demam rematik dan penyakit jantung rematik, paling sering terjadi pada anak-anak dan remaja, khususnya usia 5–15 tahun.

Namun bukan berarti anak di luar kisaran ini aman sepenuhnya — terutama jika lingkungan padat, sanitasi buruk, atau akses layanan kesehatan terbatas. Kondisi seperti itu dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi.

Belajar dari Kasus K — Implikasi bagi Orang Tua dan Sekolah

Kisah K menggarisbawahi beberapa poin penting bagi orang tua, guru, dan petugas kesehatan sekolah:

  1. Jangan remehkan radang tenggorokan ringan — meski awalnya gejala terasa ringan tanpa demam.
  2. Pantau gejala lanjutan — seperti pembengkakan, kemerahan, lemas, bengkak di tangan atau kaki.
  3. Segera bawa ke dokter untuk pemeriksaan jika muncul gejala yang tidak biasa, terutama setelah infeksi tenggorokan.
  4. Jaga kebersihan lingkungan sekolah dan rumah, termasuk alat makan, ventilasi, serta kebiasaan cuci tangan.
  5. Pantau pengobatan Antibiotik dengan benar jika diresepkan — hindari terapi putus-nyambung atau hanya “pengobatan herbal.”

Infeksi Streptococcus pada Anak — Bukan Sekadar Tenggorokan Sakit

Infeksi Streptococcus pada anak bisa tampak sepele di awal — sakit tenggorokan ringan, sedikit tidak nyaman. Tetapi bila tidak ditangani secara serius, bisa berkembang menjadi komplikasi berat seperti demam rematik dan penyakit jantung rematik — yang berisiko menetap seumur hidup.

Kasus terbaru dari K menunjukkan bahwa diagnosa dini dan pengobatan tepat bisa mencegah kerusakan jantung. Namun kewaspadaan harus tetap dijaga — terutama di lingkungan sekolah dan rumah dengan sanitasi sederhana dan kondisi padat.

Orang tua, guru, dan petugas kesehatan sebaiknya memahami gejala awal, tidak mengandalkan pengobatan alternatif tanpa panduan medis, serta memastikan penanganan tuntas jika infeksi Streptococcus terdiagnosis. Upaya pencegahan dan edukasi bisa menyelamatkan masa depan anak dari risiko jantung kronis.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *