Jembatan Udara Gaza Jadi Fokus Pertemuan Kanselir Jerman dan Raja Yordania

Isu kemanusiaan di Gaza kembali mengemuka dalam pertemuan antara Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Raja Abdullah II dari Yordania yang berlangsung di Berlin. Salah satu fokus utama diskusi adalah pembentukan jembatan udara ke Gaza sebagai respons atas krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di wilayah tersebut.
Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya bersama memperkuat hubungan bilateral sekaligus memperluas kerja sama kemanusiaan di Timur Tengah. Kementerian Luar Negeri Yordania menyebutkan bahwa pembicaraan menitikberatkan pada “perkembangan paling mendesak di kawasan,” merujuk pada konflik berkepanjangan antara Israel dan kelompok militan Hamas di Gaza.
Jerman Siapkan Jembatan Udara Gaza
Dalam konferensi pers seusai pertemuan, Kanselir Merz menegaskan niat negaranya untuk membentuk jembatan udara Gaza guna mempercepat penyaluran bantuan bagi masyarakat sipil yang terdampak konflik. “Kami sadar ini bukan solusi permanen, tapi kami berharap ini menjadi kontribusi yang berarti,” ujar Merz.
Yordania sendiri telah berperan aktif dalam mendistribusikan bantuan, termasuk menjatuhkan paket makanan melalui udara dalam dua hari terakhir. Aksi ini dilakukan menyusul pengumuman Israel tentang “jeda taktis” dalam serangan militernya.
Merz menambahkan bahwa Jerman akan segera berkoordinasi dengan Layanan Bantuan Kemanusiaan Uni Eropa dan mitra internasional lainnya untuk memfasilitasi pengiriman logistik melalui udara, mengingat banyak jalur darat yang masih diblokade.
Dukungan Rakyat Jerman terhadap Tekanan Diplomatik ke Israel
Di dalam negeri, dukungan publik terhadap kebijakan kemanusiaan ini semakin meningkat. Berdasarkan survei Forsa yang dirilis oleh majalah Stern pada 29 Juli 2025, sebanyak 74% warga Jerman ingin pemerintah mereka meningkatkan tekanan diplomatik kepada Israel agar menghentikan penderitaan warga Gaza.
Angka ini memperlihatkan peningkatan dibandingkan survei sebelumnya pada Mei lalu, yang mencatat 66% responden menyuarakan keprihatinan terhadap tindakan militer Israel.
Survei tersebut juga menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan afiliasi politik. Sebanyak 94% pendukung Partai Kiri (Die Linke) dan 88% Partai Hijau menyuarakan dukungan untuk kebijakan lebih keras terhadap Israel. Bahkan di kalangan partai pemerintah seperti CDU/CSU dan SPD, lebih dari 75% mendukung langkah tegas untuk menekan Israel agar menghentikan operasi militer dan mempercepat akses bantuan.
Sementara itu, hanya 37% pemilih dari partai sayap kanan AfD yang menolak langkah ini. Menariknya, 61% dari basis pemilih AfD pun turut mendukung peningkatan tekanan terhadap Israel.
Ketegangan di Dalam Pemerintahan Jerman
Meski ada dorongan kuat dari publik dan sebagian politisi, pemerintah Jerman belum menandatangani deklarasi bersama 28 negara Barat yang mengecam kekerasan militer Israel di Gaza. Deklarasi tersebut, yang juga ditandatangani Prancis, Italia, dan Inggris, menyerukan penghentian segera konflik dan penyelamatan warga sipil Palestina.
Kepala Kantor Kekanseliran, Thorsten Frei, menolak anggapan bahwa pemerintah Jerman terbelah. Ia menyatakan bahwa meskipun terdapat perbedaan pendekatan, koalisi tetap solid dalam tujuannya. “Tidak ada selembar kertas pun yang memisahkan kami dalam isu ini,” kata Frei kepada penyiar publik ZDF.
Pihak oposisi dan sebagian anggota SPD mendesak agar Jerman mengambil sikap lebih tegas. Namun Frei menegaskan, posisi Jerman didasarkan pada urgensi untuk memahami kronologi konflik, termasuk serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menjadi pemicu eskalasi.
Krisis Kemanusiaan Gaza Menjadi Perhatian Dunia
PBB, WHO, dan berbagai lembaga kemanusiaan telah memperingatkan bahwa warga sipil di Gaza kini berada di ambang kelaparan. Jumlah pengungsi meningkat, rumah sakit kehabisan pasokan, dan lebih dari 60% wilayah Gaza kini tidak memiliki akses air bersih atau listrik stabil.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dalam konferensi pers di New York, menyanggah pernyataan Perdana Menteri Israel yang menyebut “tidak ada kelaparan di Gaza.” Trump mengatakan bahwa “ada kelaparan nyata” dan menyerukan aksi global untuk memberi makan anak-anak dan keluarga yang menderita.
Organisasi bantuan seperti Doctors Without Borders dan Red Cross menyebut situasi di Gaza sebagai “bencana kemanusiaan terbesar dekade ini.” Mereka menyambut baik inisiatif jembatan udara Gaza yang dipimpin Jerman dan Yordania, meski menegaskan bahwa solusi jangka panjang tetap harus melibatkan gencatan senjata permanen.
Kesimpulan
Pertemuan antara Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Raja Yordania untuk membahas jembatan udara Gaza ini menandai momen penting dalam upaya diplomatik dan kemanusiaan internasional. Fokus pada jembatan udara Gaza mencerminkan urgensi global untuk menanggulangi krisis yang terus memburuk.
Dengan dukungan mayoritas rakyat Jerman dan meningkatnya tekanan internasional, pemerintah Jerman kini dihadapkan pada pilihan strategis antara solidaritas historis terhadap Israel dan tuntutan moral untuk meringankan penderitaan warga sipil di Gaza melalui program jembatan udara Gaza ini.