Antasida untuk Gas Air Mata: Apakah Benar Membantu Meredam Efeknya?
Antasida untuk gas air mata kian ramai dibicarakan di media sosial sebagai solusi untuk meredam iritasi akibat gas air mata—mudah disiapkan, murah, dan katanya lebih efektif daripada pasta gigi. Namun, sejauh mana klaim ini valid secara medis? Berikut penjelasan terkini dari kalangan medis dan temuan riset terbaru.
1. Apa Itu Gas Air Mata dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Gas air mata atau riot control agents seperti CS, CN, CR, dan OC (oleoresin capsicum) merupakan senyawa iritan yang dirancang untuk menimbulkan efek menyakitkan dan sementara pada mata, kulit, serta sistem pernapasan. Saat terpapar, seseorang dapat mengalami mata berair, batuk, sesak napas, iritasi kulit — tindakan yang umum dilakukan polisi untuk membubarkan kerumunan umum.
2. Pandangan Dokter terhadap Penggunaan Antasida
dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menyatakan ada literatur yang menyebut antasida bisa digunakan, meski secara klinis ia belum menemukannya. Alasannya adalah sifat antasida yang basa (alkalis) bisa menetralkan efek asam dari gas air mata. Aktivis maupun ahli kimia diketahui merekomendasikan larutan antasida encer (dengan baking soda dan air) sebagai tindakan sementara.
3. Bukti Lapangan: Penggunaan “L.A.W.” (Liquid Antacid and Water)

Beberapa panduan bantuan lapangan menyarankan penggunaan L.A.W., yakni larutan 50% antasida cair (contoh: Maalox plain) dan 50% air untuk meredam efek gas air mata. L.A.W. dilaporkan dapat digunakan sebagai bilasan mata, semprotan di kulit iritasi, bahkan obat kumur darurat apabila terkena iritasi ringan.
4. Apa Kata Riset Medis Terbaru?
Menurut sumber GQ dan beberapa ahli medis seperti Jason Odhner, tidak ada antidot atau obat ajaib untuk gas air mata. Solusi terbaik adalah pencegahan dan penanganan dasar seperti memakai pelindung (kacamata renang, non-oil based sunscreen), dan membilas mata dengan air atau saline. Produk seperti susu, antasida, atau baking soda belum terbukti efektif, bahkan bisa berisiko.
Begitu juga sumber lain menyampaikan bahwa mencuci mata dengan antasida atau susu tidak memperparah, tapi tidak bisa diandalkan secara ilmiah. Metode ini lebih berdasarkan pengalaman lapangan dan anekdot semata.
5. Praktik Aman: Apa yang Harus Dilakukan Saat Terpapar Gas Air Mata?
Berikut langkah-langkah yang direkomendasikan oleh para tenaga medis:
-
Segera menjauh dari sumber paparan, cari udara segar.
-
Tutupi mata dan hidung dengan kain atau gunakan pelindung mata, hindari kontak langsung.
-
Lepas pakaian yang terkontaminasi dan mandi dengan sabun lembut serta air bersih.
-
Bilas mata dengan air mengalir atau larutan saline secara perlahan; ini masih dianggap metode paling efektif untuk membersihkan zat iritan.
-
Jangan oleskan pasta gigi, minyak, lotion, atau produk berbahan lemak karena bisa memerangkap iritan dan memperparah iritasi.
-
Waspadai gejala serius seperti sesak napas, iritasi kulit parah, atau gangguan penglihatan — segera cari bantuan medis profesional jika gejala tidak mereda dalam 45–60 menit
Perlukah Pemerintah Memberikan Edukasi Mengenai Antasida untuk Gas Air Mata?
Fenomena ramainya pembahasan antasida untuk gas air mata menunjukkan perlunya edukasi resmi dari otoritas kesehatan dan keamanan publik. Banyak masyarakat yang mencari cara cepat untuk mengurangi iritasi saat aksi unjuk rasa, namun justru berpotensi salah kaprah jika hanya mengandalkan informasi dari media sosial.
Pemerintah maupun lembaga medis dapat berperan memberikan panduan berbasis bukti, misalnya melalui siaran pers resmi atau panduan praktis pertolongan pertama. Selain itu, distribusi informasi mengenai cara aman menggunakan pelindung diri, cara membilas mata yang benar, dan kapan harus mencari pertolongan medis bisa mengurangi risiko cedera serius akibat paparan gas air mata.
Meski larutan antasida telah lama digunakan oleh aktivis sebagai tindakan darurat, dokter menegaskan bahwa solusi ini bukan pengganti langkah medis yang terbukti. Penelitian lebih lanjut diperlukan agar masyarakat tidak salah memahami manfaat maupun batasan metode ini. Tanpa edukasi yang tepat, risiko penggunaan bahan yang salah — seperti antasida berperisa, susu, atau cairan tidak steril — dapat memperburuk kondisi kulit dan mata.
Fakta | |
---|---|
1 | Gas air mata bekerja dengan iritasi sementara melalui senyawa kimia yang memicu saraf lacrimal — menyebabkan mata berair, batuk, dan iritasi kulit. |
2 | dr. Aru Ariadno mencatat bahwa antasida basa mungkin punya potensi menetralkan sifat asam gas, tapi bukti klinisnya minim. |
3 | L.A.W. (antasida cair + air) telah digunakan secara praktis lapangan untuk bilasan mata dan semprotan kulit, meski potensinya masih terbatas. |
4 | Riset medis menegaskan bahwa air atau saline tetap solusi paling dapat diandalkan; metode alternatif seperti antasida atau baking soda tidak terbukti efektif. |
5 | Pertolongan pertama utama adalah menjauh dari gas, mandi bersih, bilas dengan air/saline, dan hindari penggunaan bahan berminyak atau tidak steril. |
Antasida untuk gas air mata memang menjadi opsi darurat yang banyak digunakan secara anekdotal. Namun, menurut pandangan medis dan berbagai panduan mutakhir, langkah paling aman dan terbukti adalah pencegahan lewat pelindung serta penanganan dini dengan air atau saline, bukan antasida atau bahan tidak steril lainnya.
Selalu prioritaskan keselamatan dengan mengikuti protokol medis yang terbukti, dan hindari klaim pengobatan alternatif yang belum teruji secara ilmiah.