5 Fakta Exclusive Serangan Drone Colombia Tewaskan Anggota Polisi

5 Fakta Exclusive Serangan Drone Colombia Tewaskan Anggota Polisi

Serangan drone Colombia terjadi pagi ini di Antioquia

Serangan drone Colombia terjadi sekitar pukul 09.00 WIB (waktu setempat Colombia, Kamis, 21 Agustus 2025), ketika sebuah helikopter polisi sedang melakukan operasi pemberantasan ladang kokain di daerah pedalaman Amalfi, Antioquia. Serangan tersebut menyebabkan jatuhnya helikopter UH-60 Black Hawk dan menewaskan 12 anggota polisi.

serangan drone
Ilustrasi Helikopter

1. Korban Fatal dan Luka-luka

Aksi serangan ini menewaskan 12 anggota polisi dan melukai beberapa lainnya—laporan awal mencatat 3 hingga 4 orang mengalami cedera serius. Helikopter tersebut membawa setidaknya 16 personel saat kejadian—12 tewas, sisanya terluka.

2. Lokasi dan Tujuan Operasi

Helikopter sedang menjalankan misi memberantas ladang kokain di pedalaman Amalfi, Antioquia, wilayah yang dikenal sebagai pusat penanaman daun koka untuk produksi kokain. Insiden ini merupakan yang pertama kali terjadi di provinsi Antioquia menggunakan metode drone terhadap helikopter polisi.

3. Pelaku yang Diduga bertanggung jawab atas serangan drone ini

Pemerintah awalnya menyalahkan Kartel Gulf Clan atas serangan tersebut, sebagai respon terhadap penyitaan 1,5 ton kokain sebelumnya di wilayah Urabá. Namun, kemudian Presiden Gustavo Petro menyebut pelaku yang lebih mungkin adalah kelompok disiden FARC—khususnya Front 36 dari EMC (Estado Mayor Central) yang dipimpin oleh alias “Calarcá”.

4. Serangan Tambahan: Bom Mobil di Cali

Sabtu sebelumnya juga terjadi ledakan bom kendaraan dekat markas Angkatan Udara di Cali, menewaskan sekitar 5–6 warga sipil dan melukai puluhan lainnya. Angka total korban tewas dalam dua serangan ini mencapai sekitar 18 jiwa dengan kerusakan besar dan ketakutan yang meluas di masyarakat.

5. Reaksi Pemerintah dan Dampaknya

Presiden Petro mengutuk serangan itu sebagai tindakan terorisme, menyebut para pelakunya harus diberi status sebagai “kelompok teroris” dan bisa dituntut secara internasional. Perdana Menteri Pertahanan Pedro Sánchez menyebut para korban sebagai pahlawan nasional. Di Cali, pemerintah setempat menawarkan hadiah 400 juta peso (hampir US$100.000) bagi informasi yang membantu mengidentifikasi pelaku ledakan.

Ancaman Teknologi Drone dalam Perang Narkoba Kolombia

Insiden serangan drone Colombia ini menunjukkan bagaimana kelompok kriminal bersenjata mulai mengadopsi teknologi militer modern. Drone, yang dulunya hanya digunakan untuk pemantauan, kini dimodifikasi untuk membawa bahan peledak atau senjata otomatis. Menurut analis keamanan dari Universitas Los Andes, serangan ini membuktikan bahwa jaringan kartel dan kelompok disiden FARC memiliki akses ke pasar senjata internasional serta kemampuan teknis untuk merakit drone tempur.

Pemerintah Kolombia berencana menambah perlindungan udara bagi helikopter dan pesawat polisi, termasuk memasang sistem anti-drone dan radar pendeteksi. Selain itu, pasukan keamanan akan menerima pelatihan tambahan untuk menghadapi ancaman serangan udara jarak dekat.

Di tingkat internasional, Amerika Serikat dan Uni Eropa menyatakan siap memberikan dukungan teknologi intelijen. Mereka mengecam keras serangan drone Colombia yang menewaskan aparat penegak hukum dan mengganggu stabilitas kawasan Amerika Latin.

Kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat memicu gelombang pengungsian baru, terutama di daerah pedesaan. Warga sipil di Antioquia dan Cauca kini dilanda ketakutan, banyak yang meninggalkan desa untuk menghindari pertempuran. Pemerintah setempat telah menetapkan status darurat dan memperketat penjagaan di jalur transportasi strategis untuk mencegah serangan lanjutan.

Latar Belakang dan Konteks Keseluruhan

Kolombia kembali diguncang oleh gelombang kekerasan sejak runtuhnya proses perdamaian dengan beberapa faksi FARC—dan terbentuknya kembali disiden yang tidak mau mengikuti perjanjian tahun 2016. Kelompok seperti EMC, Clan del Golfo, dan faksi lainnya semakin kuat dan kini memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan mutakhir via drone, tembakan jarak jauh, bahkan bom mobil.

Penggunaan drone oleh kelompok kriminal bukan cuma satu atau dua kali. Sejak April 2024, terdapat lebih dari 300 serangan drone terhadap aparat keamanan, sebagian besar berlangsung di wilayah produksi koka seperti Cauca dan Norte de Santander. Opsisasi ini menunjukkan eskalasi kemampuan taktis dan akses teknologi yang semakin luas oleh kelompok bersenjata di Kolombia.

Presiden Petro yang menjabat sejak 2022 dengan janji “perdamaian total” kini menghadapi kenyataan sulit: banyak kelompok bersenjata yang menolak diplomasi dan justru memperluas wilayah pengaruh lewat teror dan intimidasi. Langkah-langkah dialog kembali dibuka, tapi situasi terkini menunjukkan konflik justru semakin kompleks dan mematikan.

Kesimpulan

Serangan drone Colombia hari ini merupakan titik kritis dalam konflik internal yang sedang berlangsung. Dengan 12 polisi tewas, puluhan lainnya luka, dan serangan lanjutan di Cali, pemerintah dipaksa menanggapi dengan serius. Penetapan pelaku sebagai teroris dan pencarian informasi via reward adalah langkah awal dalam meredam gelombang kekerasan ini.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *