11 Fakta Terbaru tentang Fried Toothpicks Trend di Korea Selatan
Fried Toothpicks Trend kembali mencuri perhatian netizen di Korea Selatan. Tren unik yang menampilkan orang menggoreng tusuk gigi berbahan pati hingga tampak seperti curly fries dan kemudian memakannya, kini menjadi sorotan serius pemerintah. Kementerian Keamanan Pangan dan Obat (MFDS) menegaskan bahwa produk ini bukan pangan yang aman untuk dikonsumsi.

1. Asal-usul Fried Toothpicks Trend dan bahan dasar
Tusuk gigi ini bukan terbuat dari kayu, melainkan dari pati jagung atau ubi jalar yang diberi pewarna hijau. Produk ramah lingkungan ini dirancang agar mudah terurai di air dan sering dipakai di restoran Korea untuk mencolek makanan kecil, bukan dimakan langsung.
2. Visual menggiurkan tapi menyesatkan
Video yang viral menunjukkan tusuk gigi digoreng hingga menggembung dan disajikan dengan bumbu seperti keju bubuk atau rempah pedas. Konten mukbang—fenomena makan ekstrem di media sosial Korea—memperkuat popularitas Fried Toothpicks Trend ini dan memancing rasa penasaran generasi muda.
3. Peringatan keras dari pemerintah
MFDS mengunggah imbauan di platform X: “Produk ini bukan makanan! Keamanannya belum diverifikasi. Tolong jangan dimakan.” Peringatan ini dikeluarkan setelah video di TikTok dan Instagram mendapat ribuan suka dan dibagikan luas.
4. Alasan kekhawatiran kesehatan
Walau berbahan pati, tusuk gigi ini tidak melalui uji keamanan pangan. Risiko kontaminasi bahan tambahan atau zat berbahaya belum diketahui. Jika dikonsumsi, ada potensi gangguan pencernaan atau reaksi kimia tak terduga karena tusuk gigi ini dirancang untuk daya tahan, bukan untuk dimakan.
5. Reaksi publik dan tren meluas ke negara lain
Netizen mengkritik Fried Toothpicks Trend ini: “Kenapa makan tusuk gigi? Banyak makanan enak lain!” Tren ini bahkan menyebar ke China, memaksa otoritas setempat mengeluarkan larangan serupa.
6. Konteks Budaya: Dari Mukbang ke Tren Menyerang Logika
Fried Toothpicks Trend lahir dari fenomena mukbang, yakni siaran makan interaktif yang sangat populer sejak awal 2010-an di Korea Selatan. Konsep ini menggabungkan kata “meokneun” (makan) dan “bangsong” (siaran), dan memungkinkan kreator berinteraksi langsung dengan penonton sambil menyantap beragam makanan secara berlebihan atau dramatis. Mukbang awalnya dianggap sebagai hiburan sekaligus media pelampiasan kesepian; beberapa penonton merasa dihibur melihat orang lain makan saat mereka sendiri tidak bisa berbagi meja makan bersama keluarga.

Seiring berkembangnya platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube Shorts, sisi ekstrem moden mukbang juga meledak. Kreator berlomba membuat konten yang provokatif dan tak biasa—termasuk menggoreng tusuk gigi pati. Dalam konteks ini, Fried Toothpicks Trend adalah puncak ekstremisme dalam konten makanan daring.
7. Risiko Kesehatan yang Semakin Terlihat Nyata
Bukan sekadar tren yang lucu—risiko kesehatan nyata muncul dari kebiasaan ekstrem makan seperti ini. Para ahli menyatakan bahwa mukbang ekstrem bisa menimbulkan kondisi serius seperti obesitas, diabetes tipe 2, sindrom metabolik, penyakit jantung, iritasi lambung, dan bahkan kemungkinan kematian akibat over-eating atau lambung pecah.
Meskipun Fried Toothpicks Trend belum terjadi dalam skala jumlah kalori ekstrem seperti mukbang besar, tujuannya tetap sama: provokasi visual, sensasi crunchy, dan viralitas. Ini bisa mendorong penonton—terutama anak-anak dan remaja—untuk mencoba, dan kenaikan konsumsi sorbitol atau alum (bahan penyusun tusuk gigi tepung) dapat berujung pada muntah, diare, dan bahkan peradangan usus jika terlalu banyak.
8. Reaksi Pemerintah dan Upaya Edukasi
Seperti yang sudah dicatat, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS) melayangkan peringatan tegas: “Toothpick gandum ini bukan untuk dimakan! Keselamannya belum diverifikasi!” Mereka juga menekankan bahwa produk tersebut masuk kategori sanitary products, bukan makanan—oleh karena itu standar produksi dan pengemasan berbeda dengan produk makanan.
Lebih lanjut, pemerintah Korea pernah mencoba mengatur konten mukbang pada 2018 demi menghindari norma berlebihan dan obesitas yang meningkat. Namun, regulasi tersebut mendapat penolakan karena dianggap membatasi kebebasan kreator. Kini, tren seperti menggoreng tusuk gigi memperlihatkan betapa sulitnya menyeimbangkan kebebasan berekspresi dan perlindungan kesehatan masyarakat.
MFDS juga memberikan pesan penuh empati dalam bahasa informal, “Tolong jangan makan… Gunakan tusuk gigi untuk gigi!” sebagai usaha membumikan imbauan agar menjangkau konsumen daring yang muda dan terhubung ke tren viral.
9. Reaksi Masyarakat: Dari Skeptis ke Sinis
Reaksi di media sosial mengenai Fried Toothpicks Trend ini sungguh bervariasi. Beberapa netizen menertawai tren ini, bertanya-tanya apa daya tariknya—sementara yang lain mempertaruhkan kesehatan demi reputasi daring. Di Reddit, seorang pengguna berkomentar:
“Saya ingat memang tusuk gigi ini terbuat dari pati jagung atau kentang… Saya akan coba. Rasanya tidak terlalu buruk—seperti camilan ringan ketika bosan. Tapi saya masih lebih suka pretzel.”
Ada pula komentar kritis:
“Ini bukan food grade, tapi food-contact grade—artinya bisa saja mengandung debu, serangga, atau pelumas mesin. Meski tampak aman dimakan, tidak jelas aman untuk konsumsi manusia.”
Reaksi ini mencerminkan dua kutub: rasa ingin tahu viral dan kesadaran risiko. Banyak netizen menyadari, tren viral tak selalu aman, tetapi ketenaran daring bisa mengalahkan akal sehat.
10. Implikasi Global: Saat Tren Viral Menyebar
Fried Toothpicks Trend telah menarik perhatian global—media internasional seperti Time, Sky News, The Independent, dan U.S. News memuat liputan dengan nada waspada. Beberapa menyoroti aspek lucu dan unik, tetapi tak sedikit yang memperingatkan bahayanya.
Fenomena seperti ini menyebar dengan cepat di era digital—apabila pemerintah tidak melakukan intervensi atau edukasi publik, tren ekstrim bisa meluas ke negara lain. Seperti China yang juga sempat melarang mukbang ekstrem, Indonesia atau negara Asia Tenggara lainnya perlu siap tanggap terhadap pola viral yang bisa membentuk perilaku konsumsi berbahaya.
11. Regulasi vs Kreativitas: Garis Tipis Antara Viral dan Berbahaya
Konten mukbang secara prinsip bukanlah masalah—namun ketika kreator mendorong batas dengan subjek berbahaya seperti menggoreng tusuk gigi, garis antara hiburan dan risiko tertabrak. Pemerintah dan platform media sosial perlu menegas:
-
Memberi label “Not Food – Sanitary Use Only” di kemasan.
-
Mempromosikan konten mukbang sehat: misalnya makan makanan bergizi dalam porsi wajar.
-
Menyensor konten yang mengglorifikasi bahaya fisik demi viralitas.
Program edukasi di sekolah tentang literasi media dan keamanan pangan juga esensial agar generasi muda tidak terjebak “tidak semua yang terlihat renyah layak dimakan”.
Fried Toothpicks Trend menonjolkan sisi gelap “viral demi konten” di era digital. Meski terlihat lucu dan ringan, efeknya bisa berdampak serius terhadap kebiasaan makan dan persepsi pangan, terutama pada anak muda. Pemerintah, platform media, dan publik perlu bersama-sama menciptakan keseimbangan: apresiasi kreativitas, tetapi tetap menjaga kesehatan dan keselamatan.