Minimarket empati menjadi solusi baru yang menyentuh hati bagi warga Seoul yang merasa kesepian. Dari ruang menonton film hingga pijat kaki, tempat ini kini menjadi pelabuhan harapan bagi mereka yang haus akan kehangatan.

Sejak diluncurkan sebagai bagian dari program “Seoul Without Loneliness” akhir 2024, sejumlah mind convenience stores—atau minimarket empati—telah dioperasikan sebagai pilot. Salah satunya berada di area Dongdaemun, dilengkapi kursi pijat, foot-spa, layar film, serta mi instan gratis sebagai simbol kenyamanan. Sebagian besar pengunjung datang bukan untuk berinteraksi intens, melainkan sekadar berada di ruang yang bersahabat dan menerima.

5 Alasan Minimarket Empati di Seoul Jadi Jawaban Atasi Kesepian
1. Ruang nyaman untuk sekadar “berada”
Minimarket empati dirancang menyerupai gabungan antara kafe dan minimarket tradisional. Di sini, warga bisa masuk tanpa tekanan sosial—hanya duduk, menonton, atau menikmati mi instan sambil meredam rasa hampa.
2. Tangani kesepian sebelum jadi krisis
Melalui program “Seoul Without Loneliness”, pemerintah kota berupaya mengatasi kesepian sejak tahap awal—sebelum berubah menjadi isolasi total. Dilengkapi survei suasana hati dan konseling ringan, setiap pengunjung bisa merasa dihargai meski awalnya diam.
3. Layanan lengkap dan terpadu
Selain ruang fisik, Seoul juga mengaktifkan hotline 24 jam untuk kesepian yang telah menerima ribuan panggilan sejak peluncurannya pada April–Juli 2025—melampaui target tahunan.
4. Anggaran besar untuk efek luas
Program lima tahun yang dipimpin Walikota Oh Se-hoon mengalokasikan sekitar 451,3 miliar won (~US$330 juta) untuk perang melawan kesepian—termasuk pendirian minimarket empati, pusat pencegahan isolasi, hotline, dan platform digital.
5. Pendekatan empatik lewat dukungan teman sebaya

Di setiap minimarket empati, hadir konselor atau relawan yang memiliki pengalaman serupa—seperti Lee In-sook—yang membantu pengunjung membuka diri secara perlahan. Metode ini terbukti efektif—menyediakan kehangatan manusia yang formalitas birokrasi tak bisa berikan.

6. Ekspansi dan Jangkauan Meningkat
Program “Seoul Without Loneliness” telah menjangkau lebih dari 152.000 warga Seoul melalui pusat-pusat dukungan untuk rumah tangga satu orang antara 2022 hingga 2024 yang kini tersebar di 24 dari 25 distrik ibu kota. Di samping minimarket empati, tersedia juga program seperti kursus memasak kimchi atau makanan rendah garam, kelas perbaikan, serta penyewaan alat—semua dirancang untuk memperkuat interaksi sosial dan kebersamaan ringan.
7. Hotline dan Pendekatan Proaktif
Hotline 24-jam “Goodbye Loneliness 120” yang diluncurkan pada April 2025 menerima lebih dari 3.000 panggilan dalam enam minggu, jauh melampaui target tahunan. Statistik menunjukkan 63% penelepon berasal dari kalangan usia paruh baya, 31% dari kaum muda, sementara hanya 5% dari lansia —menandakan bahwa kesepian bukan hanya persoalan usia tua.
8. Pendekatan Multidimensi Terhadap Isolasi Sosial
Selain menyediakan ruang fisik seperti minimarket empati dan hotline, pemerintah Seoul juga menerapkan pendekatan berbasis data. Mereka melacak tanda-tanda isolasi lewat data utilitas (seperti surat yang tidak diambil atau pengiriman tak tersentuh) dan melakukan kunjungan langsung atau mengarahkan individu ke komunitas lokal atau layanan bermanfaat. Program seperti “Everyone’s Friend” juga mengajak mereka yang pernah mengalami isolasi untuk mendampingi warga lain secara informal dan empatik.
9. Kritik dan Kompleksitas Solusi
Meski mendapat apresiasi, ada suara ahli yang menyoroti bahwa investasi besar ini—diperkirakan setara US$250–330 juta (Rp3,8–5 triliun)—belum menyasar akar penyebab seperti budaya kompetitif dan beban sosial yang terus meruncing. Namun demikian, kombinasi antara minimarket empati, hotline, dan pendekatan berbasis data tetap dinilai sebagai langkah progresif bagi sebuah kota metropolitan.
Tren dan Dampaknya
Lebih dari 35% rumah tangga di Seoul kini dihuni oleh satu orang—dan 62% dari mereka mengalami kesepian. Sekitar 130.000 kaum muda usia 19–39 tahun mengalami isolasi sosial ekstrem, termasuk fenomena mirip hikikomori Jepang.

Selain itu, jumlah kematian kesepian (“lonely deaths”) meningkat dari 3.378 (2021) menjadi 3.661 (2023), menunjukkan urgensi intervensi sosial.
Dengan jangkauan yang semakin meluas—dari tempat fisik hingga platform digital dan outreach berbasis data—minimarket empati kini menjadi komponen penting dalam strategi Seoul menghadapi kesepian. Kawasan ini bukan hanya menawarkan ramen hangat dan film, tetapi juga mengatasi krisis emosional yang muncul dalam struktur urban modern melalui sentuhan manusiawi dan pendekatan proaktif.
Minimarket empati bukan hanya tempat fisik, melainkan simbol kepedulian dan strategi cerdas pemerintah Seoul dalam menghadapi kesepian urban modern. Dengan menciptakan ruang hangat tanpa stigma, mengintegrasikan pelayanan konseling, dan menyematkan kehadiran manusia empatik, minimarket empati telah menjadi jawaban atas kesepian yang semakin merambah masyarakat. Keberhasilan program ini menjadi model global untuk kota lain dalam merajut kembali rasa kebersamaan.